Minggu, 28 Maret 2010

Siapakah anda ??


“If you have time to be mindful, you have time to meditate”
~Ajahn Chah

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, suatu saat pernah mendapat pertanyaan, “Guru, di manakah tempat tinggal anda?”. “Saya tidak tinggal di mana pun”, jawab Ajahn Chah.

“Bukankah Guru tinggal di vihara?” tanya seorang umat dengan penasaran. “Saya tidak tinggal di manapun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah.

Karena Ajahn Chah tidak ada maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat” jawab Sang Guru.

Dalam kesempatan lain Ajahn Chah mendapat pertanyaan, “Siapakah Ajahn Chah?”, dari dua orang yang berbeda . Jawaban Ajahn Chah juga berbeda.

Untuk penanya pertama ia menjawab, “Ini, inilah Ajahn Chah”, sedangkan untuk penanya kedua ia menjawab, “Ajahn Chah? Tidak ada Ajahn Chah.”

Saya bingung saat membaca jawaban guru spiritual ini. Lha, mana ada orang yang nggak punya tempat tinggal. Dan lebih aneh lagi ia menjawab, “Tidak ada Ajahn Chah”.

Berarti ia menyangkal keberadaan dirinya. Lha, kalau Ajahn Chah tidak ada lalu siapakah yang bernama Ajahn Chah? Atau siapakah yang sedang berbicara?

Jawaban yang singkat namun sangat dalam ini membutuhkan beberapa waktu untuk saya telaah, renungkan, kunyah perlahan-lahan hingga akhirnya saya bisa memahami inti sari dari pernyataan Beliau.

Selain melakukan indepth thinking saya juga membutuhkan informasi tambahan untuk benar-benar bisa mengerti maksud Beliau. Sebagai seorang yang terbiasa berpikir logis maka saya membutuhkan informasi pendukung mengapa Ajahn Chah berkata, ”Tidak ada Ajahn Chah?” Apa maksud Beliau dan apa hubungannya dengan proses berpikir dan ”aku”? Jika tidak ada Ajahn Chah lalu siapakah orang yang mengeluarkan pernyataan?

Pembaca, setelah berpikir dan berpikir....eureka...akhirnya saya mengerti. Ajahn Chah benar. Yang Beliau maksudkan dengan ”Tidak ada Ajahn Chah” adalah padamnya ego yang selama ini menguasai diri kita.

”Aku”, ”Saya”, ”Punyaku”, ”Milikku” semua adalah permainan ego. Ego bekerja dan mempertahankan diri, memperkuat pengaruh, semakin memperbesar dirinya, dan semakin kuat mencengkeram kita dengan menggunakan dua strategi yaitu identifikasi dan separasi. Identifikasi berasal dari akar kata idem, yang berarti sama, dan facere yang berarti membuat. Jadi identifikasi berarti membuat menjadi sama.

Kita, manusia, senantiasa mengidentifikasi diri kita dengan sesuatu. Hal ini tampak dalam pernyataan ”Saya marah”, Ini ideku”, ”Ini rumahku”, ”Tubuhku gemuk”, ”Mobilku rusak”, dan masih banyak lagi pernyataan yang serupa.

Saat kita berkata ”Saya marah” maka kita mengidentifikasikan ”saya” dengan ”marah”. Berarti ”saya” sama dengan ”marah”. Saat kita berkata ”Ini ideku” maka kita menyamakan diri kita dengan ide kita. Itulah sebabnya bila ada orang yang mengkritik ide kita maka kita bisa marah besar.

Mengapa?

Karena kita menganggap orang itu mengkritik diri kita. Nah, ini kan bentuk identifikasi.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita ini sama dengan emosi kita? Apakah kita ini sama dengan ide kita? Tentu tidak.

Marah adalah suatu bentuk emosi. Dan kita tidak sama atau bukan emosi kita. Demikian juga dengan ide. Ide adalah buah pikir (thought) yang dihasilkan oleh pikiran (mind) melalui proses berpikir (think). Pikiran (mind) diarahkan oleh kesadaran (awareness).

Kita merasa bahwa kita sama dengan emosi atau ide kita karena ego yang membuatnya seperti itu. Apakah kita sama dengan pikiran kita? Tentu tidak.

Manusia terdiri atas dua bagian yaitu tubuh fisik/badan dan batin. Batin manusia terdiri atas empat komponen yaitu pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran.

Dan kita bukanlah batin maupun fisik kita.

Identifikasi ini tampak jelas saat seorang anak menangis sedih karena mainannya rusak. Anak ini sedih bukan karena sayang dengan mainan yang harganya mahal.

Anak ini sedih karena identifikasi dalam bentuk ”Mainanku rusak” membuat ”mainan” masuk ke dalam struktur ”aku”. Dengan kata lain, anak merasa yang rusak bukan hanya mainannya namun juga ”dirinya”.

Identifikasi seperti ini juga tampak dalam diri pejabat yang mengalami post power syndrome, pengusaha yang dulu jaya tapi sekarang bangkrut, wanita yang dulunya langsing dan sexy namun sekarang gemuk, dan masih banyak contoh lain. Singkat kata identifikasi membuat seseorang melekat pada sesuatu.

Strategi kedua yang digunakan ego adalah separasi. Separasi maksudnya ”aku” adalah entitas yang berbeda dengan ”orang” atau ”aku” yang lain. Aku tidak bisa ada tanpa adanya ”yang lain”, kamu, dia, mereka.

Untuk mempertegas separasi ini ego biasanya menggunakan emosi negatif yang dimunculkan dengan menggunakan strategi ”mengeluh/menyalahkan” dan ”membenci” orang lain.

Semakin kita sering mengeluh atau menyalahkan orang lain maka semakin jelas separasi di antara kita dan mereka. Mengeluh dan menyalahkan diperkuat oleh emosi benci.

Lalu apa sih ego itu? Kok bisa pintar seperti ini kerjanya, sangat halus dan berbahaya?

Ego adalah hasil ciptaan pikiran kita.

Nggak percaya?

Coba lakukan eksperimen kecil ini. Misalnya ada orang yang berkata, ”Hei, manusia kurang ajar. Matamu ditaruh di mana kok sampe nginjak kaki saya?”, bagaimana reaksi anda? Apakah anda akan diam, tersenyum, atau marah? Bisa jadi anda, yang merasa tidak bersalah, akan marah besar.

Nah, sekarang skenarionya diubah. Misalnya saat anda sedang tidur lelap dan orang ini mengucapkan hal yang sama pada diri anda. Apa yang akan anda lakukan?

Bagaimana reaksi anda?

Saya yakin anda tidak akan berekasi sama sekali. Lha, lagi enak-enak tidur mana bisa mendengar omongan orang. Benar, nggak?

Ego beroperasi saat kita dalam kondisi sadar. Saat kita ”tidak sadar” (baca: tidur) maka ego juga berhenti bekerja.

Saat sedang merenungkan pernyataan Ajahn Chah tiba-tiba saya teringat satu pernyataan yang sangat terkenal dari Rene Descartes, filsuf besar abad ketujuh belas yang dianggap sebagai bapak filosofi moderen, ”Cogito Ergo Sum”, yang kalau dalam bahasa Inggris, ”I think, therefore I am”, dan kalau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi, ”Saya berpikir maka saya ada”.

Lama saya merenungkan pernyataan ini. Mana yang lebih dulu ada. Saya berpikir maka saya ada ataukah saya ada baru saya bisa berpikir? Pemikiran ini akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan bahwa sebenarnya ada lebih dari satu ”aku”. ”Aku” yang berpikir dan ”aku” yang berkata ”Saya ada”.

Semuanya menjadi semakin jelas saat saya membaca literatur yang berjudul ”Unity and Multiplicity: Multilevel Consciousness of Self in Hypnosis, Psychiatric Disorder and Mental Health” yang ditulis oleh John O. Beahrs.

Ternyata yang namanya kesadaran atau consciousness itu bertingkat-tingkat (multilevel). Kesadaran atau consciousness yang aktif dalam suatu saat bisa berbeda bergantung situasi dan kondisi.

Kesimpulan ini semakin diperjelas lagi saat saya membaca pernyataan Jean Paul Sartre yang juga mengatakan, ”Kesadaran yang mengatakan ”I am” bukanlah kesadaran yang berpikir (I think)”.

Apa maksudnya?

Saat kita sadar mengenai proses berpikir kita, atau dengan kata lain kita menganalisis atau menggunakan pikiran untuk berpikir mengenai apa yang kita pikirkan atau proses berpikir kita maka kesadaran yang melakukan analisis berbeda dengan kesadaran yang melakukan proses berpikir.

Secara teknis kemampuan berpikir mengenai berpikir disebut dengan metakognisi.

Saat kita sedang mengalami gejolak emosi maka hati-hati lah karena saat itu ego sedang bermain. Kita sering mendengar pernyataan, ”Saya merasa tersinggung dengan ucapannya”, atau ”Ini milikku. Jangan coba-coba sentuh”.

Cara untuk mengatasi cengkeraman ego adalah dengan mengajukan pertanyaan, ”Ok, kalau saya tersinggung, maka sebenarnya bagian mana dari diri saya yang tersinggung?”. Apakah rambut saya, telinga saya, mata saya, atau kaki saya?

Sama seperti mobil. Jika ada kawan yang berkata, ”Saya habis nyerempet pembatas jalan. Mobil saya penyok.” Tentu kita tidak akan serta merta menerima pernyataan ini. Kita pasti akan bertanya, ”Bagian mana yang penyok? Bemper depan, kiri, kanan, atau kena di bodi mobil?”

Nah demikian juga dengan manusia. Jika kita tersinggung maka pasti ada bagian yang mengalami perasaan tersinggung. Benar, nggak? Nah, kita harus mencari bagian ini. Sebab, jika kita menerima pernyataan ”Saya merasa tersinggung” secara utuh maka yang terkena dampaknya adalah diri kita secara keseluruhan.

Padahal bila kita teliti maka yang terkena dampak dari perasaan tersinggung sebenarnya hanyalah perasaan kita. Benar, hanya perasaan. Perasaan, yang merupakan salah satu dari empat komponen batin manusia, yang akan selalu mengalami berbagai emosi yang dialami seseorang. Baik itu emosi positif maupun yang negatif. Cara ini bertujuan untuk bisa melepaskan diri dari cengkeraman identifikasi yang dilakukan ego.

Singkat kata, saat kita merasakan sesuatu maka yang merasakan itu adalah ”perasaan”, bukan ”kita” atau ”aku”.

Demikian juga dengan pernyataan, ”Ini milikku’. Bisa kita tanyakan, ”Bagian mana dari diri saya yang memiliki benda ini?” Bagaimana dengan orang yang

mengalami amnesia atau lupa ingatan? Apakah orang ini masih bisa mengingat benda yang dulunya menjadi miliknya? Trus... kalau sudah lupa maka konsep ”milik-ku” runtuh dengan sendirinya.

Nah, pembaca, membaca sejauh ini apakah anda bisa menarik kesimpulan untuk menjawab pertanyaan yang saya tulis sebagai judul artikel ini, ”Siapakah Aku?”.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan kalimat yang pernah saya baca di satu buku:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir jaman
Dan rohku akan kembali kepada Sang Khalik

Pertanyaan saya pada anda, ”Siapa atau apakah ”aku” pada kalimat di atas?”

sumber:adi w gunawan

Sabtu, 20 Maret 2010

Laptop HP Pavilion dan Presario Ternyata Bermasalah


Menurut pengamat quality control China, dalam sebuah investigasinya, Hewlett-Packard Co ditengarai telah menjual computer laptop yang rusak, dan tidak mengindahkan aturan proteksi untuk konsumen. Dari General Administration of Quality Supervision, bagian Inspection and Quarantine mengatakan dalam pernyataan dalam sebuah website (http://www.aqsiq.gov.cn) setelah banyaknya konsumen complain, pihaknya menemukan sejumlah model laptop HP yang ternyata memiliki video card dan layar display laptop yang cacat.

Menurut website tersebut, video card yang cacat dapat menyebabkan panas berlebih (overheating), kerusakan komputer dan layar berwarna hitam di sejumlah model laptop HP, seperti laptop HP Pavilion DV2000 dan HP Compaq Presario v3000. Sementara terdapat 6 model lainnya termasuk HP 541 yang juga memiliki masalah dengan layarnya. Namun, pernyataan dalam website tersebut tidak menyebutkan berapa banyak komputer HP yang terkena masalah ini.

Sementara dari HP menyatakan bahwa pihaknya sudah mengetahui pemberitahuan tersebut, dan akan segera mengadakan investigasi lebih lanjut. Dari report China itu, disebutkan bahwa HP juga mengabaikan peraturan untuk perlindungan ke konsumen dengan hanya garansi tiga tahun atau penggantian, atau perbaikan. Sebanyak 170 orng pengguna telah mengajuikan complain soal laptop HP yang cacat tersebut.
sumber:beritanet.com

Kamis, 04 Maret 2010

Menyelamatkan Data Pada CD yang Tergores atau Rusak

Pada masa sekarang ini media penyimpanan data yang paling aman, tahan lama, kapasitas besar dan murah adalah CD (Compact Disc) dan DVD. Dengan harga Drive CD-Writer 52x sudah dibilang relatif murah yang hampir menjadi syarat mutlak bagi kelengkapan sebuah PC. Dipasaran dijual berbagai macam merk dan bahan CD-R / CD-RW dengan kualitas dan harga yang beragam.
Kualitas CD kadang ditentukan oleh harga yang mahal . Walaupun harganya mahal namun bila perlakuan anda terhadap CD tersebut tidak semestinya, tentu hal ini sia - sia. Terlepas dari hal itu apapun CD yang anda miliki, punya peluang untuk tergores, berjamur, patah, dan lain sebagainya.


Sekarang bagaimana bila CD yang kita miliki beserta data, file - file penting di dalamnya tidak dapat dibaca karena tergores, berjamur, dll. Pada kesempatan kali ini penulis hanya akan mengutamakan trik untuk menyelamatkan data pada CD tergores.
Banyak software-software penyelamat data, yang free atau shareware diantaranya seperti CD Check dari http://elpros.si/CDCheck/, Badcopy Pro dari http://www.jufsoft.com, dan CD Data Rescue dari http://www.naltech.com. Sehebat apapun software tersebut tetap saja tergantung pada kualitas hardware. Hardware yang sangat berperan dalam penyelamatan data pada CD adalah CD-ROM / CD-RW / DVD-ROM Drive. Semakin baik kualitas error corection CD-ROM drive tersebut maka semakin besar peluang terselamatkannya data dari CD. Di pasaran CD-ROM drive dijual dengan harga yang bervariasi. Biasanya harga tidak pernah menipu, harga yang tinggi memiliki kualitas terbaik dan pilihan serta idaman banyak orang, namun tidak ada salahnya anda menanyakan kepada penjual tersebut atau mencari informasi test beberapa CD-ROM drive dari majalah atau tabloid mengenai komputer, cd-rom mana yang memiliki error correction terbaik itulah yang anda pilih. Dalam penyelamatan data selain fitur error correction, tips yang dianjurkan oleh penulis CD-ROM tersebut memiliki fitur Multispeed, dengan maksud agar kecepatan maksimal CD-ROM bisa diatur secara manual dengan bantuan software seperti Nero DriveSpeed yang bisa di download secara gratis dari http://www.nero.com atau Http://www.cdspeed2000.com. pengaturan kecepatan maksimal secara manual ini hanya mengoptimalkan kemampuan baca CD-ROM.
Secara default kecepatan CD-ROM akan berkurang secara otomatis ketika membaca data pada cd yang tergores atau yang kurang baik dan akan bertambah setelah goresan tersebut terlewati. Baik tidaknya pengaturan kecepatan otomatis ini tergantung dari firmware CD-ROM tersebut, oleh karena itu update-lah CDROM anda dengan firmware terbaru. Namun pengalaman penulis, CD-ROM yang memiliki error correction baik dan firmware terbaru kadang masih belum sanggup menangani goresan pada keping CD yang sudah benar-benar cacat akibat goresan, namun dengan menurunkan kecepatan maksimal CD-ROM pada kecepatan terendah (misal 4x atau 8x) hal ini kadang dapat diatasi, karena CDROM tersebut dengan kecapetan konstan tidak otomatis naik turun.
Selain CD-ROM Drive, hardware lain yang berperan adalah kepingan CD itu sendiri. Untuk Mengetahui tidak terbacanya data tersebut akibat kegagalan proses burning atau karena kerusakan fisik, bisa dilihat dari keping CD tersebut apakah ada kotoran / goresan atau tidak, bila tidak ada maka kemungkinan besar akibat kegagalan pada saat burning. Oleh karena itu setiap anda melakukan burning lebih baik diakhiri dengan verifikasi data (gambar 5) atau dengan software Nero CD Speed (gambar 1), yang juga bisa di download secara gratis dari http://www.nero.com atau http://www.cdspeed2000.com atau keduanya akan terinstall secara otomatis bila anda menginstall software Nero Burning ROM.

Gambar 5. Hasil Scandisc Sebelum (kiri) dan Sesudah (kanan) dipoles

Sekarang bagaimana menyelamatkan data pada CD yang tergores? Lihat secara fisik keping CD tersebut pastikan tidak ada kotoran pada permukaan bawahnya (bagian sensitif, yang dibaca oleh optik CD-ROM). Bila ada kotoran atau goresan ringan bersihkan dengan cairan pembersih khusus keping CD, yang dijual dipasaran dalam kemasan botol kaleng. Bila hal ini telah dilakukan dan kotoran serta goresan berkurang atau hilang, maka sudah dipastikan semua data dalam CD tersebut bisa diselamatkan 98%, 1% nya tergantung kualitas penulisan data tersebut ke CD dan 1% lagi kualitas error correction CD-ROM drive.







Bagaimana bila goresan tersebut masih ada? untuk melakukannya sangat diperlukan keterampilan, ketekunan, pengalaman dan beberapa peralatan serta bahan khusus. Alat tersebut adalah yang biasa dipakai untuk poles mobil, berupa kain poles yang diputar oleh bor. Serta bahan yang dipakai adalah pasta untuk memoles mobil terutama yang baik dalam menghilangkan goresan (scratch) (gambar 2). Namun jangan khawatir, anda tidak perlu berlatih berbulan – bulan. Anda cukup berlatih dengan mengorbankan 1 CD yang sengaja digores.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan yaitu :
Backup seluruh data dalam CD yang masih terbaca dengan baik ke harddisk sebelum dipoles.
Bersihkan optik CDROM dengan cd dan cairan pembersihnya jika diperlukan.
Saat memoles cd tidak menekan kain poles secara berlebihan.
Hindari memoles pada 1 lokasi, poles seluruh permukaan cd secara merata, agar tidak terbentuk cekungan.
Usahakan permukaan yang dipoles selalu basah oleh bahan poles, lakukan secara intermittent (sebentar-sebentar) dengan maksud bahan tidak menguap karena panas dari gesekan antara kain poles dengan permukaan CD.
Setelah goresan berkurang coba copy data-data yang tidak terbaca tadi ke hardisk.
Setelah semua data-data terselamatkan, cek data-data tersebut dari file corrupt dengan membuka data-data tersebut. Bila OK,segera Backup ke cd yang baru.
CD yang sudah dipoles jangan dibiarkan terlalu lama tidak dibackup, karena permukaan cd semakin tipis dan lebih mudah berjamur, atau bila tergores-gores lagi, kecil kemungkinan data akan terselamatkan.
Selamat Mencoba, Semoga Artikel ini Bisa menjadi salah satu solusi menyelamatkan data
sumber:http://iq-man.blogspot.com/2007/05/selamatkan-data-pada-cd-tergores.html

Jumat, 19 Februari 2010

Merancang Sistem Keamanan Jaringan


Jakarta - Suatu organisasi dapat mempunyai dua atau lebih dari satu situs atau dimana tiap situs mempunyai jaringan sendiri. Bila organisasi besar, maka sangat dimungkinkan situs-situs tersebut mempunyai administrasi jaringan yang dibedakan menurut tujuan tertentu.

Bila situs-situs ini tidak terhubung melalui internet, tiap situs mungkin memiliki kebijakan keamanan sendiri. Bagaimanapun, bila situs-situs tersebut terhubung melalui internet, maka kebijakan keamanan harus mencakup tujuan dari semua situs yang saling terhubung.

Pada umumnya suatu situs adalah bagian dari organisasi yang mempunyai beberapa komputer dan sumber daya yang terhubung ke dalam suatu jaringan. Sumber daya tersebut misalnya :

Workstation dan Laptop
Komputer sebagai host atau server
Interkoneksi: gateway, router, bridge, repeater
Perangkat lunak aplikasi dan jaringan (NOS)
Kabel-kabel jaringan
Informasi di dalam file dan database

Kebijakan keamanan situs harus memperhatikan pula keamanan terhadap sumber daya tersebut. Karena situs terhubung ke jaringan lain, maka kebijakan keamanan harus memperhatikan kebutuhan dari semua jaringan yang saling terhubung. Hal ini penting untuk diperhatikan karena kemungkinan kebijakan keamanan situs dapat melindungi situs tersebut, namun berbahaya bagi sumber daya jaringan yang lain.

Suatu contoh dari hal ini adalah penggunaan alamat IP di belakang firewall, dimana alamat IP tersebut sudah digunakan oleh orang lain. Pada kasus ini, penyusupan dapat dilakukan terhadap jaringan di belakang firewall dengan melakukan IP spoofing. Sebagai catatan, RFC 1244 membahas keamanan keamanan situs secara detail.

Kebijakan Keamanan Jaringan

Kebijakan keamanan menyediakan kerangka-kerangka untuk membuat keputusan yang spesifik, misalnya mekanisme apa yang akan digunakan untuk melindungi jaringan dan bagaimana mengkonfigurasi servis-servis. Kebijakan keamanan juga merupakan dasar untuk mengembangkan petunjuk pemrograman yang aman untuk diikuti user maupun bagi administrator sistem. Karena kebjikan keamanan tersebut mencakup bahasan yang sangat luas, maka pada saat ini hanya akan dibahas inti permasalahan saja dan tidak akan membahas hal-hal yang bersifat spesifik dari segi teknologi.

Sebuah kebijakan keamanan mencakup hal-hal berikut ini:
Deskripsi secara detail tentang lingkungan teknis dari situs, hukum yang berlaku, otoritas dari kebijakan tersebut dan filosofi dasar untuk digunakan pada saat menginterpretasikan kebijakan tersebut.
Analisa risiko yang mengidentifikasi aset-aset situs, ancaman yang dihadapi oleh aset-aset tersebut dan biaya yang harus dikeluarkan untuk kerusakan/kehilangan aset-aset tersebut.
Petunjuk bagi administrator sistem untuk mengelola sistem
Definisi bagi user tentang hal-hal yang boleh dilakukan
Petunjuk untuk kompromi terhadap media dan penerapan hukum yang ada, serta memutuskan apakah akan melacak penyusup atau akan mematikan sistem dan kemudian memulihkannya lagi.
Faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan kebijakan keamanan antara lain adalah:
Komitmen dari pengelola jaringan
Dukungan teknologi untuk menerapkan kebijakan keamanan tersebut
Keefektifan penyebaran kebijakan tersebut
Kesadaran semua user jaringan terhadap keamanan jaringan

Pihak pengelola jaringan komputer mengatur tanggung jawab terhadap keamanan jaringan, menyediakan training untuk personel-personel yang bertugas di bidang keamanan jaringan dan mengalokasikan dana untuk keamanan jaringan. Yang termasuk pilihan-pilihan teknis yang dapat digunakan untuk mendukung keamanan jaringan komputer antara lain:
Authentikasi terhadap sistem
Audit sistem untuk akuntabilitas dan rekonstruksi
Enkripsi terhadap sistem untuk penyimpanan dan pengiriman data penting
Tool-tool jaringan, misalnya firewall dan proxy

Hal-hal Praktis Pendukung

Di bawah ini adalah hal-hal praktis yang perlu dilakukan untuk mendukung keamanan jaringan komputer, antara lain:
Memastikan semua account mempunyai password yang sulit untuk ditebak. Akan lebih baik bila menggunakan OTP (One Time Password)
Menggunakan tool, misalnya MD5 checksums, sebuah teknik kriptografi untuk memastikan integritas perangkat lunak sistem
Menggunakan teknik pemrograman yang aman pada saat membuat perangkat lunak
Selalu bersikap waspada terhadap penggunaan dan konfigurasi jaringan komputer
Memeriksa secara rutin apakah vendor memiliki perbaikan-perbaikan terhadap lubang keamanan yang terbaru dan selalu menjaga sistem selalu mengalami upgrading terhadap keamanan
Memeriksa secara rutin dokumen-dokumen dan artikel on-line tentang bahaya keamanan dan teknik mengatasinya. Dokumen dan artikel seperti ini dapat ditemukan pada situs-situs milik incident response teams, misalnya CERT (Computer Emergency Response Team – http://www.cert.org dan Computer Security Incident Response Team - http://www.CSIRT.org)
Mengaudit sistem dan jaringan dan secara rutin memeriksa daftar log. Beberapa situs yang mengalami insiden keamanan melaporkan bahwa audit yang dikumpulkan minim sehingga sulit untuk mendeteksi dan melacak penyusupan
sumber:http://www.detikinet.com/read/2010/02/08/132457/1295066/510/merancang-sistem-keamanan-jaringan-yang-tangguh