Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Februari 2011

Demo Mesir


KAIRO – Kementerian Kesehatan Mesir mengatakan sekira 365 orang tewas dan 5.500 lainnya terluka selama unjuk rasa di Mesir yang berhasil menumbangkan kekuasaan Hosni Mubarak.

“Jumlah orang tewas dalam demonstrasi di Mesir sekitar 365 dan 5.500 orang dirawat karena terluka,” Menteri Kesehatan Sameh Farid mengatakan pada kantor berita Mena seperti dikutip AFP, Kamis (17/2/2011).

Farid mengatakan Kementrian Kesehatan masih menunggu laporan dari berbagai rumah sakit dan dinas kesehatan.

Para demonstran menghadapi bentrokan hebat dengan pasukan keamanan, dan kemudian antara kelompok anti dan pro pemerintahan Mubarak. Pada 11 Februari, Mubarak mundur dan menyerahkan kekuasaan pada dewan militer, yang berjanji akan mencari jalan untuk reformasi demokrasi.

Namun menurut kelompok Jaringan Arab untuk Informasi Hak Asasi Manusia, hingga kini ratusan orang masih dinyatakan hilang usai aksi protes berakhir pekan lalu.

Gamal Eid, pengacara yang mengepalai Jaringan Arab untuk Informasi Hak Asasi Manusia, mengatakan, “ada ratusan orang yang ditangkap, tapi informasi mengenai jumlah pasti masih belum lengkap. Militer menahan mereka.”


sumber: okezone.com

Minggu, 11 April 2010

Sering Kemalingan Berbuah Peluang Usaha

Jakarta - Tiga kali jadi korban pencurian membuat Heng Dju Ong kesal. Dia sudah rugi puluhan juta rupiah dari beberapa aksi maling di rumahnya, Jl Terusan Sentra Indah, Bandung. Mobil Heng Dju juga pernah dibobol saat parkir. Gembok mahal dan alarm sudah dipasang semua di rumahnya. Namun itu sia-sia belaka. Para maling itu rupanya lebih pintar.


Pengusaha roti ini hampir putus asa, sampai dia mendengar kabar dari temannya dari Prancis yang bertemu di Taiwan 2004 lalu. Setelah Heng Dju curhat, sang kawan mengusulkan sebuah gembok model baru yang sudah dijual di Eropa sejak 5 tahun lalu. Harganya memang mahal untuk sebuah gembok, di atas Rp 2 juta kalau dirupiahkan.

"Menurut saya gembok itu sangat unik dan pintar. Sebab alarmnya tidak
sekonyong-konyong menyala tapi melewati beberapa tahap. Sehingga tidak membuat
kesal pemilik rumah atau kendaraan. Tapi memang saat itu saya belum membeli alat
tersebut. Soalnya harganya masih sangat mahal," ujar Heng Dju dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (8/4/2010).

Gembok beralarm tersebut berbahan metal campuran yang sangat kuat. Untuk menghidupkan alarm, gembok tersebut memiliki sensor getar dengan 3 level peringatan. Level pertama, jika tersentuh maka gembok tersebut akan mengaktifkan alarm. Jika kurang dari satu menit gembok itu kembali tersentuh alarm tersebut naik ke level 2 dan mengeluarkan suara bip sebanyak 3 kali. Nah, kalau belum satu menit tetap tersentuh gembok itu akan mengeluarkan suara yang nyaring selama 45 detik.

Gembok sejenis pun akhirnya diproduksi China dengan harga lebih miring. Heng Dju pun membelinya beberapa buah di Taiwan. Itu pun pada awalnya untuk kebutuhan pribadi. Namun gembok pintar ini kemudian menarik perhatian para koleganya. Heng Dju pun mengendus peluang bisnis. Daripada mereka beli ke Taiwan, lebih baik Heng Dju menjualnya di Indonesia.

"Oktober 2009, saya mulai berjualan gembok beralarm. Saat itu kebetulan usaha roti saya sedang bangkrut," ujarnya.

Gembok beralarm mulai dipasarkan di Indonesia sejak Januari 2010. Harganya dibandrol Rp 240 ribu untuk daerah Bandung. Di luar Bandung ditambah ongkos kirim. Kini sudah ratusan gembok dijual Heng Dju. Konsumennya paling banyak menggunakan untuk menggembok sepeda motor.

Gembok motor diakui Heng Dju, sangat laris karena banyak pengendara motor selama
ini serba salah dalam memilih kunci pengaman motor. Jika menggunakan gembok di rem cakram, pemilik kendaraan umumnya sering lupa membuka sehingga merusak cakram tersebut. Sedangkan jika memakai alarm, aki motor jadi tekor.

Pemilik motor lebih nyaman memakai gembok beralarm yang bertenaga 8 baterai jam. Prinsip kerjanya tetap sama. Jika disentuh pertama kali hanya berbunyi 'klik' pertanda alarm diaktifkan. Jika sebelum 1 menit disentuh lagi, gembok berbunyi 'bip' tiga kali. Kalau beberapa detik kemudian masih disentuh, barulah gembok mengeluarkan suara berkekuatan 110 desibel selama 45 detik.

Sementara, Heng Dju juga menjual dua jenis gembok rumah. Ada yang Rp 280 ribu dan Rp 320 ribu. Perbedaan dua gembok rumah ini hanyalah jumlah level pengamanan serta baterai yang digunakan. Untuk gembok rumah ini, kata Heng Dju, cara kerjanya sama dengan gembok untuk motor. Hanya bentuknya saja yang berbeda.

"Tapi keduanya punya kemampuan mumpuni untuk mengamankan rumah dari aksi maling yang suka membobol gembok pagar atau pintu rumah," jelasnya.

Gembok-gembok produksi China yang dipasarkan Heng Dju di Indonesia diberi merek
oleh Heng Dju, yakni Smarthome. Sebabnya, produsen gembok ini tidak memberikan merk, hanya nomor registrasi saja. Tapi yang jelas bagi Heng Dju, usaha jualan gembok ini merupakan berkah.

"Ternyata pengalaman sering kemalingan membuat berkah tersendiri. Saya sekarang jadi punya usaha jual alat-alat keamanan," pungkasnya.
sumber detiknews.com

Minggu, 28 Maret 2010

Siapakah anda ??


“If you have time to be mindful, you have time to meditate”
~Ajahn Chah

Seorang guru spiritual, Ajahn Chah, suatu saat pernah mendapat pertanyaan, “Guru, di manakah tempat tinggal anda?”. “Saya tidak tinggal di mana pun”, jawab Ajahn Chah.

“Bukankah Guru tinggal di vihara?” tanya seorang umat dengan penasaran. “Saya tidak tinggal di manapun. Karena sebenarnya tidak ada Ajahn Chah.

Karena Ajahn Chah tidak ada maka tidak ada yang tinggal di suatu tempat” jawab Sang Guru.

Dalam kesempatan lain Ajahn Chah mendapat pertanyaan, “Siapakah Ajahn Chah?”, dari dua orang yang berbeda . Jawaban Ajahn Chah juga berbeda.

Untuk penanya pertama ia menjawab, “Ini, inilah Ajahn Chah”, sedangkan untuk penanya kedua ia menjawab, “Ajahn Chah? Tidak ada Ajahn Chah.”

Saya bingung saat membaca jawaban guru spiritual ini. Lha, mana ada orang yang nggak punya tempat tinggal. Dan lebih aneh lagi ia menjawab, “Tidak ada Ajahn Chah”.

Berarti ia menyangkal keberadaan dirinya. Lha, kalau Ajahn Chah tidak ada lalu siapakah yang bernama Ajahn Chah? Atau siapakah yang sedang berbicara?

Jawaban yang singkat namun sangat dalam ini membutuhkan beberapa waktu untuk saya telaah, renungkan, kunyah perlahan-lahan hingga akhirnya saya bisa memahami inti sari dari pernyataan Beliau.

Selain melakukan indepth thinking saya juga membutuhkan informasi tambahan untuk benar-benar bisa mengerti maksud Beliau. Sebagai seorang yang terbiasa berpikir logis maka saya membutuhkan informasi pendukung mengapa Ajahn Chah berkata, ”Tidak ada Ajahn Chah?” Apa maksud Beliau dan apa hubungannya dengan proses berpikir dan ”aku”? Jika tidak ada Ajahn Chah lalu siapakah orang yang mengeluarkan pernyataan?

Pembaca, setelah berpikir dan berpikir....eureka...akhirnya saya mengerti. Ajahn Chah benar. Yang Beliau maksudkan dengan ”Tidak ada Ajahn Chah” adalah padamnya ego yang selama ini menguasai diri kita.

”Aku”, ”Saya”, ”Punyaku”, ”Milikku” semua adalah permainan ego. Ego bekerja dan mempertahankan diri, memperkuat pengaruh, semakin memperbesar dirinya, dan semakin kuat mencengkeram kita dengan menggunakan dua strategi yaitu identifikasi dan separasi. Identifikasi berasal dari akar kata idem, yang berarti sama, dan facere yang berarti membuat. Jadi identifikasi berarti membuat menjadi sama.

Kita, manusia, senantiasa mengidentifikasi diri kita dengan sesuatu. Hal ini tampak dalam pernyataan ”Saya marah”, Ini ideku”, ”Ini rumahku”, ”Tubuhku gemuk”, ”Mobilku rusak”, dan masih banyak lagi pernyataan yang serupa.

Saat kita berkata ”Saya marah” maka kita mengidentifikasikan ”saya” dengan ”marah”. Berarti ”saya” sama dengan ”marah”. Saat kita berkata ”Ini ideku” maka kita menyamakan diri kita dengan ide kita. Itulah sebabnya bila ada orang yang mengkritik ide kita maka kita bisa marah besar.

Mengapa?

Karena kita menganggap orang itu mengkritik diri kita. Nah, ini kan bentuk identifikasi.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita ini sama dengan emosi kita? Apakah kita ini sama dengan ide kita? Tentu tidak.

Marah adalah suatu bentuk emosi. Dan kita tidak sama atau bukan emosi kita. Demikian juga dengan ide. Ide adalah buah pikir (thought) yang dihasilkan oleh pikiran (mind) melalui proses berpikir (think). Pikiran (mind) diarahkan oleh kesadaran (awareness).

Kita merasa bahwa kita sama dengan emosi atau ide kita karena ego yang membuatnya seperti itu. Apakah kita sama dengan pikiran kita? Tentu tidak.

Manusia terdiri atas dua bagian yaitu tubuh fisik/badan dan batin. Batin manusia terdiri atas empat komponen yaitu pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran.

Dan kita bukanlah batin maupun fisik kita.

Identifikasi ini tampak jelas saat seorang anak menangis sedih karena mainannya rusak. Anak ini sedih bukan karena sayang dengan mainan yang harganya mahal.

Anak ini sedih karena identifikasi dalam bentuk ”Mainanku rusak” membuat ”mainan” masuk ke dalam struktur ”aku”. Dengan kata lain, anak merasa yang rusak bukan hanya mainannya namun juga ”dirinya”.

Identifikasi seperti ini juga tampak dalam diri pejabat yang mengalami post power syndrome, pengusaha yang dulu jaya tapi sekarang bangkrut, wanita yang dulunya langsing dan sexy namun sekarang gemuk, dan masih banyak contoh lain. Singkat kata identifikasi membuat seseorang melekat pada sesuatu.

Strategi kedua yang digunakan ego adalah separasi. Separasi maksudnya ”aku” adalah entitas yang berbeda dengan ”orang” atau ”aku” yang lain. Aku tidak bisa ada tanpa adanya ”yang lain”, kamu, dia, mereka.

Untuk mempertegas separasi ini ego biasanya menggunakan emosi negatif yang dimunculkan dengan menggunakan strategi ”mengeluh/menyalahkan” dan ”membenci” orang lain.

Semakin kita sering mengeluh atau menyalahkan orang lain maka semakin jelas separasi di antara kita dan mereka. Mengeluh dan menyalahkan diperkuat oleh emosi benci.

Lalu apa sih ego itu? Kok bisa pintar seperti ini kerjanya, sangat halus dan berbahaya?

Ego adalah hasil ciptaan pikiran kita.

Nggak percaya?

Coba lakukan eksperimen kecil ini. Misalnya ada orang yang berkata, ”Hei, manusia kurang ajar. Matamu ditaruh di mana kok sampe nginjak kaki saya?”, bagaimana reaksi anda? Apakah anda akan diam, tersenyum, atau marah? Bisa jadi anda, yang merasa tidak bersalah, akan marah besar.

Nah, sekarang skenarionya diubah. Misalnya saat anda sedang tidur lelap dan orang ini mengucapkan hal yang sama pada diri anda. Apa yang akan anda lakukan?

Bagaimana reaksi anda?

Saya yakin anda tidak akan berekasi sama sekali. Lha, lagi enak-enak tidur mana bisa mendengar omongan orang. Benar, nggak?

Ego beroperasi saat kita dalam kondisi sadar. Saat kita ”tidak sadar” (baca: tidur) maka ego juga berhenti bekerja.

Saat sedang merenungkan pernyataan Ajahn Chah tiba-tiba saya teringat satu pernyataan yang sangat terkenal dari Rene Descartes, filsuf besar abad ketujuh belas yang dianggap sebagai bapak filosofi moderen, ”Cogito Ergo Sum”, yang kalau dalam bahasa Inggris, ”I think, therefore I am”, dan kalau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi, ”Saya berpikir maka saya ada”.

Lama saya merenungkan pernyataan ini. Mana yang lebih dulu ada. Saya berpikir maka saya ada ataukah saya ada baru saya bisa berpikir? Pemikiran ini akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan bahwa sebenarnya ada lebih dari satu ”aku”. ”Aku” yang berpikir dan ”aku” yang berkata ”Saya ada”.

Semuanya menjadi semakin jelas saat saya membaca literatur yang berjudul ”Unity and Multiplicity: Multilevel Consciousness of Self in Hypnosis, Psychiatric Disorder and Mental Health” yang ditulis oleh John O. Beahrs.

Ternyata yang namanya kesadaran atau consciousness itu bertingkat-tingkat (multilevel). Kesadaran atau consciousness yang aktif dalam suatu saat bisa berbeda bergantung situasi dan kondisi.

Kesimpulan ini semakin diperjelas lagi saat saya membaca pernyataan Jean Paul Sartre yang juga mengatakan, ”Kesadaran yang mengatakan ”I am” bukanlah kesadaran yang berpikir (I think)”.

Apa maksudnya?

Saat kita sadar mengenai proses berpikir kita, atau dengan kata lain kita menganalisis atau menggunakan pikiran untuk berpikir mengenai apa yang kita pikirkan atau proses berpikir kita maka kesadaran yang melakukan analisis berbeda dengan kesadaran yang melakukan proses berpikir.

Secara teknis kemampuan berpikir mengenai berpikir disebut dengan metakognisi.

Saat kita sedang mengalami gejolak emosi maka hati-hati lah karena saat itu ego sedang bermain. Kita sering mendengar pernyataan, ”Saya merasa tersinggung dengan ucapannya”, atau ”Ini milikku. Jangan coba-coba sentuh”.

Cara untuk mengatasi cengkeraman ego adalah dengan mengajukan pertanyaan, ”Ok, kalau saya tersinggung, maka sebenarnya bagian mana dari diri saya yang tersinggung?”. Apakah rambut saya, telinga saya, mata saya, atau kaki saya?

Sama seperti mobil. Jika ada kawan yang berkata, ”Saya habis nyerempet pembatas jalan. Mobil saya penyok.” Tentu kita tidak akan serta merta menerima pernyataan ini. Kita pasti akan bertanya, ”Bagian mana yang penyok? Bemper depan, kiri, kanan, atau kena di bodi mobil?”

Nah demikian juga dengan manusia. Jika kita tersinggung maka pasti ada bagian yang mengalami perasaan tersinggung. Benar, nggak? Nah, kita harus mencari bagian ini. Sebab, jika kita menerima pernyataan ”Saya merasa tersinggung” secara utuh maka yang terkena dampaknya adalah diri kita secara keseluruhan.

Padahal bila kita teliti maka yang terkena dampak dari perasaan tersinggung sebenarnya hanyalah perasaan kita. Benar, hanya perasaan. Perasaan, yang merupakan salah satu dari empat komponen batin manusia, yang akan selalu mengalami berbagai emosi yang dialami seseorang. Baik itu emosi positif maupun yang negatif. Cara ini bertujuan untuk bisa melepaskan diri dari cengkeraman identifikasi yang dilakukan ego.

Singkat kata, saat kita merasakan sesuatu maka yang merasakan itu adalah ”perasaan”, bukan ”kita” atau ”aku”.

Demikian juga dengan pernyataan, ”Ini milikku’. Bisa kita tanyakan, ”Bagian mana dari diri saya yang memiliki benda ini?” Bagaimana dengan orang yang

mengalami amnesia atau lupa ingatan? Apakah orang ini masih bisa mengingat benda yang dulunya menjadi miliknya? Trus... kalau sudah lupa maka konsep ”milik-ku” runtuh dengan sendirinya.

Nah, pembaca, membaca sejauh ini apakah anda bisa menarik kesimpulan untuk menjawab pertanyaan yang saya tulis sebagai judul artikel ini, ”Siapakah Aku?”.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan kalimat yang pernah saya baca di satu buku:

Saat aku mati, tubuhku akan dikubur dan kembali ke tanah
Jiwaku menunggu penghakiman di akhir jaman
Dan rohku akan kembali kepada Sang Khalik

Pertanyaan saya pada anda, ”Siapa atau apakah ”aku” pada kalimat di atas?”

sumber:adi w gunawan